![]() |
GAMBAR PINJAM DARI SINI |
Pernahkah anda membaca berita tentang seorang bayi yang
lahir tanpa tangan? Ternyata orang tuanya mengaku ketika hamil muda sempat
minum obat anti hipertensi yang diresepkan oleh dokter. Ketika
memeriksakan diri, ia tidak menyampaikan bahwa ia sedang hamil. Kini kedua
orang tuanya hanya bisa pasrah dan menerima keadaan anaknya walau sedih melihat
cacat yang diderita anaknya.
Dalam dunia kedokteran dan farmasi dikenal adanya peristiwa menyedihkan yang disebut
tragedi Taledomid. Peristiwa ini terjadi pada sekitar tahun 1956-1961.
Taledomid (alfa-ftalimido-glutaramid ) adalah obat hipnotika yang tidak
toksik dan juga bersifat anti nausea (anti mual ). Obat ini pernah
dikenal dan digunakan secara luas oleh wanita hamil sebagai anti emesis (anti
muntah ) di Jerman Barat, Inggris dan Australia . Segera setelah itu munculah ledakan cacat bawaan
berupa amelia, fokomelia atau meromelia (anggota badan pendek). Penelitian epidemiologis dan percobaan pada
binatang akhirnya membuktikan bahwa cacat tersebut diakibatkan oleh Taledomid.
Kesedihan tidak saja melanda ibu yang
melahirkan bayi cacat, tapi juga keluarga, kerabat dan bahkan dunia ilmu
pengetahuan. Kasus taledomid itu semoga menjadi pelajaran mahal bahwa
ibu hamil harus berhati-hati dalam mengkonsumsi obat.
JANGAN RAGU KE DOKTER
Ketika anda sakit semasa hamil, jangan
sembarang minum obat. Kalau hanya sakit ringan seperti masuk angin, flu ringan atau
pusing-pusing yang bisa ditahan, sebaiknya berusahalah memperbaiki kondisi
tubuh dengan istirahat yang cukup dan makan yang bergizi. Keluhan-keluhan
ringan biasanya akan menghilang sejalan dengan pulihnya kondisi tubuh. Sebagai contoh saat anda batuk,
cobalah diselesaikan dengan minum air perasan jeruk nipis yang dikombinasi
dengan madu. Resep ini akan membantu mengurangi dan mengeluarkan dahak,
sehingga anda lebih lega.
Akan tetapi jangan pula menyepelekan jika
gejalanya nampak serius atau terus-menerus. Lebih aman jika anda berkonsultasi
dengan dokter dan berterus-terang dengan kehamilan anda. Penyakit anda akan
mempengaruhi janin anda. Tubuh yang
melakukan perlawanan terhadap penyakit, membutuhkan gizi dan istirahat yang
cukup sehingga andapun harus meningkatkan asupan gizi. Demikian pula obat yang
anda minum, akan sampai ke janin. Dokterlah yang mengetahui apakah obat
tersebut berbahaya bagi janin atau tidak. Namun ada baiknya mengetahui agar andapun dapat melakukan
penjagaan sendiri.
![]() |
GAMBAR PINJAM DARI SINI |
OBAT-OBAT BERBAHAYA
Mengapa sebagian obat berpengaruh terhadap
janin dan sebagian lain tidak ? Suatu obat akan berpengaruh terhadap janin
tergantung dari kecepatan dan kemampuannya melewati barier plasenta.
Obat dengan besar molekul kurang dari 600 (rata-rata obat memiliki besar
molekul 200-400 ) dapat melewati plasenta dengan mudah. Demikian pula obat yang
derajat ionisasi dan kelarutannya dalam lemak tinggi. Selain itu, tebalnya
barier plasenta ikut menentukan dapat tidaknya suatu obat atau agen eksogen
masuk ke dalam sirkulasi janin. Pada awal kehamilan, tebal barier plasenta
adalah 25 mikrometer, dan pada akhir kehamilan adalah 2 mikrometer.
Suatu obat dapat mempengaruhi
perkembangan janin melalui beberapa mekanisme, tetapi yang terpenting adalah
gangguan dalam sintesis protein, baik ditingkat DNA, RNA maupun tingkat
ribosom, atau melalui gangguan keseimbangan hormonal misalnya hormone seks
untuk menembusnya dan memasuki sirkulasi janin. Seberapa berat obat
mempengaruhi perkembangan janin dapat digolongkan menjadi tiga kategori :
1. Embriotoksik,
yang langsung menyebabkan kematian hasil konsepsi dan biasanya berakhir
abortus. Obat tersebut berpengaruh fatal pada janin ketika diminum pada dua
minggu pertama setelah konsepsi (pembuahan).
2. Teratogenik
atau dismorfogenik yaitu langsung menyebabkan kelainan bawaan yang berat. Ini
terjadi ketika ibu minum obat pada akhir minggu kedua hingga minggu ke delapan.
3. Efek
samping yang lebih ringan yang biasanya menimbulkan kelainan morfologis ringan
atau kelainan fungsional. Terjadi ketika ibu meminum obat mulai awal pekan ke 9
.
Berdasarkan efek teratogeniknya obat
digolongkan dalam tiga golongan :
- Obat yang memilki sifat teratogenik pasti seperti talidomid, obat anti tumor, hormone tertentu, sodium valproat dan isotretionin.
- Obat yang dicurigai bersifat teratogenik seperti anti konvulsan, tembakau, alcohol, litium dan warfarin
- Obat yang diduga bersifat teratogenik seperti : barbiturate, sulfonamide dan anti malaria.
Cerita sedih seputar penggunaan
talidomid telah saya paparkan diatas. Adapun obat anti tumor sangat berbahaya
terhadap janin karena jaringan embrional dalam beberapa hal menyerupai jaringan
tumor. Kelainan bawaan yang mungkin terjadi akibat pemakaian obat anti tumor
ini adalah cacat anggota, cacat pada system syaraf pusat, celah langit atau
celah muka, kelainan organ dalam dan lain-lain.
Khusus
obat anti tumor ini jika digunakan dibawah saran seorang dokter akan melewati
suatu prosedur resmi yang disepakati
oleh pasien. Dokter akan sangat berhati-hati dalam penggunaannya. Hanya saja
menjadi berbahaya jika ia merupakan obat tradisional yang dikonsumsi tanpa
petunjuk ahli medis atau diminum secara tak sengaja oleh ibu hamil. Misalnya
jamu-jamu yang mengandung alkaloida vinkristin dan vinbalstin seperti benalu.
Sebaiknya ibu hamil berhenti mengkonsumsi jamu jika tidak dapat dipastikan komponen penyusunnya, dosis dan
pengaruhnya terhadap janin.
![]() |
GAMBAR PINJAM DARI SINI |
Mungkin
anda pernah membaca tentang bayi yang lahir dengan alat kelamin yang tidak
sempurna, tidak jelas laki-laki atau perempuan. Diantara yang berpengaruh dalam
hal ini adalah obat hormone yang dikonsumsi ibu hamil. Ibu yang meminum hormone
androgen pada trimester pertama kehamilannya, ada yang melahirkan bayi
perempuan dengan alat kelamin agak menyerupai bayi laki-laki.
Penggunaan
hormone estrogen dalam jumlah yang relative besar sebelum usia kehamilan
mencapai 4 bulan, juga membawa efek teratogenik pada janin berupa clear cell
adenocarcinoma pada serviks dan vagina ketika janin itu nantinya terlahir dan tumbuh
menjadi gadis usia 19-20 tahun !
Obat-obat
kortikosteroid seperti kortison, jika diminum pada trimester pertama kehamilan
dapat mengakibatkan celah langit (atau bibir sumbing ), oleh sebab itu harus
dihindari oleh wanita hamil.
Diantara
obat yang dicurigai bersifat teratogenik adalah tembakau ( rokok dan nikotin ).
Lahir dini, berat badan rendah, serta kelainan jantung bawaan terjadi pada
wanita hamil yang merokok. Diduga, merokok menimbulkan
kelainan pada pembuluh darah, menurunkan nafsu makan dan meninggikan saturasi
HbCO dalam darah.
Alkohol
juga harus dihindari oleh ibu hamil karena diduga bersifat teratogenik. Alkohol
menmyebabkan defisiensi nutrien pada ibu dan memang berefek toksik langsung
pada jaringan embrio. Diantara kelainan yang disebabkan karena alkoholisme
kronik adalah : kelainan kepala yaitu mikrosefali dan celah langit, kelainan
kardiovaskuler, janin tumbuh lambat dan retardasi mental.
Selanjutnya,
obat barbiturat diduga memiliki efek samping pada janin. Obat ini sering
diberikan pada penderita epilepsi. Gejala efek samping mirip gejala defisiensi
vitamin K dan dapat ditanggulangi dengan
pemberian profilaksi vitamin K. obat anti malaria seperti kinin dapat
menyebabkan aborsi karena berefek oksitoksik (memacu kontraksi uterus) atau karena
sifat toksik langsung terhadap embrio. Kloroquin jika diberikan terutama pada
trimester pertama kehamilan, dapat menyebabkan kelainan mata atau tuli
kongenital. Pirimetamin adalah anti asam folat yang harus dihindari
penggunaannya dalam kehamilan. Antidiabetik oral seperti tolbutamid harus juga
dihindari. Obat ini dapat menyebabkan hipoglikemia yang hebat pada bayi yang
baru dilahirkan.
Eter yang
sering digunakan sebagai anastetika umum dikamar operasi berisiko terhadap
wanita yang bekerja dikamar operasi. Mereka mendapat resiko aborsi yang lebih
besar atau melahirkan anak dengan kelainan kongenital. Resiko kelainan ini juga
terjadi pada anak-anak para wanita yang suaminya bekerja dikamar operasi.
Beberapa obat anastesi juga berisiko terhadap wanita hamil menyebabkan depresi
neonatal dan kematian perinatal.
Antibiotika
sering digunakan secara luas untuk anti infeksi. Beberapa golongan ternyata
memiliki efek samping pada janin.
Tetrasiklin misalnya, jika diberikan pada trimester pertama kehamilan dapat
menyebabkan gangguan pertumbuhan tulang dan mikromelia. Sedangkan pemberian
pada trimester kedua dapat menyebabkan perubahan warna kekuningan pada gigi
susu. Dan pemberian setelah trimester kedua dapat menyebabkan perubahan warna
kuning yang permanen.
Golongan
antibiotik seperti sterptomisin, kanamisin, gentamisin, dan vankomisin dapat
menyebabkan kerusakan syaraf kedelapan pada janin. Sehingga hanya diberikan
pada ibu hamil dengan infeksi berat sedangkan obat lain tidak tersedia.
Obat-obat
untuk vaksin, pada umumnya diberikan setelah memasuki kehamilan trimester kedua.
Pada pemberian saat trimester pertama akan meningkatkan resiko abortus. Vaksin
rubela tidak boleh diberikan sepanjang kehamilan dan dua bulan sebelum kehamilan
karena dapat menyebabkan cacat bawaan.
Sekian dulu ya, disambung lain kali.
![]() |
ANAK-ANAK KORBAN THALEDOMID GAMBAR DIAMBIL DARI SINI
Artikel ini pernah saya muat di kompasiana : http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2012/01/09/catatan-harian-kehamilan-7-428681.html
|
Saya setuju mbak..Trimester pertama adalah masa pembentukan tubuh janin..jadi asupan yang dikonsumsi ibu sangat berperan. Jika ada konsumsi yang sifatnya teratogenic, bisa mempengaruhi bentuk tubuh janin, yang sering adalah obat dan jamu.
BalasHapusMakasih kunjungannya Rahmat Tubagus. Jamu sekarang kadang dimasuki bahan kimia oleh produsen yang nakal. padahal jamu tanpa bahan kimia saja mungkin sekali sudah berefek pada janin.
BalasHapusSedih bgt ih..
BalasHapusBumil, calon bumil, suami, calon suami hrs baca artikel ini..
Makasih kunjungannya Mak Nathalia...
BalasHapus